Sekilas Sejarah Pacuan Kuda Gayo sebagai Tradisi Pesta Rakyat Gayo

kudaKabupaten Aceh Tengah dengan ibukotanya Takengon dikenal dengan berbagai sebutan, diantaranya “Negeri di atas Awan”, “Dataran Tinggi Tanoh Gayo” dan “Negeri Antara”. Di negeri ini berlangsung pesta rakyat tahunan yang menampilkan pacuan kuda tradisional gayo. Tanpa perlu promosi dan  tanpa perlu komando, secara serentak masyarakat yang mendiami dataran tinggi tanoh gayo pada waktu tersebut turun membanjiri kota Takengon untukmenyaksikan pesta rakyat gayo dengan even pacuan kuda tradisional yang berlangsung selama sepekan. Kalau selama ini mereka hanya berkutat di lahan-lahan pertanian yang menjadi tempat mata pencaharian, maka saat sekaranglah waktunya berleha-leha menikmati hiburan tahunan. Uniknya kuda-kuda yang dipacu masa itu adalah kuda yang juga berfungsi sebagai pembajak sawah. Tempat yang dipilih sebagai lokasi pacuan kuda adalah Gelengang Musara Alun, persis terletak di jantung kota Takengon ibukota Kabupaten Aceh Tengah. Kondisi lintasan tampak sangat bersahaja. Di sepanjang lintasan yang dibuat melingkar, hanya dibatasi oleh rotan. Pacuan kuda tradisional gayo merupakan sebuah even yang berlangsung tiap tahun. Peristiwa ini adalah bagian dari peringatan hari ulang tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Perhatian masyarakat bertumpu seluruhnya ke arena pacuan ini. Rasanya ada yang belum lengkap kalau masyarakat belum menyaksikan acara ini. Sebuah pesta rakyat Gayo !!!

Dari Ratu Belanda

Kemeriahan Pacuan Kuda Gayo

Even pacuan kuda tradisional gayo yang dilaksanakan sekarang ini merupakan kelanjutan tradisi yang telah dilakukan masyarakat dimasa silam.  Sebagai sebuah warisan sejarah, peristiwa ini berlangsung setiap tahun. Dulu acara pacuan kuda diselenggarakan selepas panen padi. Masyarakat suatu kampung kemudian berkumpul pada sebuah lapangan. Kuda-kuda yang dipacu itu adalah kuda pembajak sawah. Pada momentum tersebut, sebagai sebuah hiburan, kuda-kuda itu dipacu. Waktu itu belum ada lintasan khusus dan finish di perbatasan sungai. Lingkupnya pun kecil-kecilan dan lomba antar kampung. Namun dalam dekade selanjutnya, event ini kemudian memasuki babak sejarah baru, setelah pemerintah kolonial Belanda masuk. Tepatnya sejak tahun 1926 lomba pacuan kuda mulai digarap khusus. Oleh pihak kolonial acara ini dimasukkan sebagai peringatan hari ulang tahun Ratu Belanda Willhelmina. Berangkat dari peristiwa monumental inilah, selanjutnya pihak Belanda mengkontinyuitaskan penyelenggaraan pacuan kuda sebagai bagian dari pesta kerajaan. Babakan sejarah seterusnya bergerak lain. Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 memproklamasikan kemerdekaannya. Seiring dengan itu, cerita mengenai pacuan kuda juga berubah. Artinya, penyelengaraannya tidak lagi dikaitkan dengan hari ulang tahun Ratu Willhelmina, melainkan bergeser menjadi peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Sebagai suatu refleksi rasa suka cita rakyat Gayo terhadap Kemerdekaan Republik Indonesia. Dan penyelenggaraan pun ditetapkan tiap tanggal 18 Agustus sehari  setelah peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesai. Sejak itulah, atraksi pacuan kuda menjadi tak terpisahkan dengan hari kemerdekaan. Event tersebut dianggap sebagai ungkapan kegembiraan atas keberhasilan Indonesia membebaskan diri dari belenggu penjajah. Atraksi pacuan kuda lalu dipadukan dengan acara kesenian Didong Jalu dan olahraga sepak bola, lomba perahu dan lomba berenang yang berlangsung di Danau Laut Tawar. Boleh disebut inilah momentum paling kolosal bagi penyelenggaraan pesta rakyat Gayo di dataran tinggi tanoh Gayo. Pacuan kuda di Takengon rada unik. Di samping kuda-kuda yang di pacu adalah kuda pembajak sawah, juga joki-jokinya pun terhitung anak-anak, rata-rata berusia 10 -15 tahun. Remaja kecil ini berlatih  menunggang  kuda secara otodidak. Maksudnya mereka belajar naik kuda dari kuda-kuda miliknya masing-masing. Bisa jadi, anak-anak yang di piawai menunggang kuda memiliki nilai kebanggaan tersendiri. Sebab konon, ukuran kejantanan seorang laki-laki di buktikan dari bisa tidaknya sang anak menunggangi kuda yang tanpa dilengkapi perangkat pelana. Dan tak heran bila, anak-anak remaja di Tanoh Gayo sangat berhasrat mempertontonkan kebolehannya dalam arena pacuan kuda yang dilangsungkan tiap tahun itu. Sering pula para joki kecil itu mendapat cedera, lantaran terjatuh dalam pacuan kuda tanpa pelana tersebut.

Memacu Kuda Tanpa Pelana

Tanpa rasa was-was atau takut, lima remaja berusia 15 tahun mengenakan celana pendek dan baju kusam dan bertelanjang kaki, dengan sigap melompat ke atas punggung kuda masing-masing. Hewan itu tak dilengkapi pelana, seperti layaknya kuda pacu. Cuma sebuah tali kekang menjulur dari belahan bibir kuda tersebut. Di tangan masing-masing anak yang masih siswa SMP itu tergenggam lecutan rotan. Kelima kuda ini mengambil ancang-ancang di garis start. Sementara ribuan pengunjung tampak mengelu-elukan kuda andalannya. Dan gemuruh sorak tiba-tiba “meledak” keras bersamaan dengan dikibarkannya bendera start. Maka bagai anak panah yang lepas dari busur, kuda-kuda yang “dikemudikan” para bocah ingusan itu melesat cepat pada lintasan yang hanya dibatasi dengan pagar rotan di lapanggan Gelengang Musara Alun Takengon. Tapi tiba-tiba baru setengah putaran, seekor kuda terjungkal. Si joki kecil terpelanting. Penonton menahan nafas. Tapi tak lama berselang karena sikap jantan dan keberanian yang luar biasa, sang joki bangkit dan memacu kudanya kembali. Tak tampak dari wajah sedikit pun rasa sakit atau keluhan. Bahkan sebaliknya seperti tersangsang bangkit dan melanjutkan permainan. Agaknya atraksi ini juga menjadi ajang mempertontonkan kejantanan anak laki-laki. Dia mesti kuat dan terlihat gagah bersama kuda jantannya. Bersamaan dengan itu gemuruh penonton tak henti menyemangati si joki. Pemandangan dramatik itulah yang menjadi bagian dari pertunjukan pacuan kuda tradisional Gayo di dataran tinggi tanoh Gayo yang berlangsung selama sepekan diawali tanggal 18 Agustus. Ratusan kuda bertanding dalam arena ini. Kuda yang dipacu terbagi tiga kategori. Kuda muda (5 tahun ke bawah), kuda dewasa (5-7 tahun), dan kuda tua (8-10 tahun). (Sumber Depparpostel Daerah Istimewa Aceh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


eight − 1 =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>